Tampilkan postingan dengan label true story. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label true story. Tampilkan semua postingan

Kamis, 23 Juli 2015

Biarawati papua dan habib munzir

Biarawati Papua & Habib Munzir
.
.
Kemarin saya menceritakan saat Habib Munzir berdakwah di papua. Sungguh didalam perjalanan tsb begitu banyak hikmah yang bisa di petik. Salah satunya adalah kisah berikut ini. Ditengah perjalanan (dalam perjalanan dari Sorong menuju Teminabuan Papua) dalam perjalanan tersebut Habib Munzir dan Tim menggunakan mobil 4×4 bak terbuka, di tengah perjalanan rombongan ini diberhentikan oleh salah seorang biarawati, wanita pimpinan agama non muslim yang berusia diatas 50 an, sepertinya ia ingin ikut menumpang mobil, Asri (yg menyupir mobil) menanyakan kepada Habib Munzir, karena mobil ini sudah di carterkan utk Habib Munzir dan Tim.
"Habib, apakah ibu biarawati ini boleh di naikkan?". Tanya sopir (Asri) kepada Habib Munzir.
Tanpa pikir panjang lagi Habib Munzir menjawab "Boleh, tapi mau ditempatkan dimana? disini sudah tidak ada tempat".
"Taruh di Bak belakang aja bib bersama barang" kata Asri.
"Hm tapi saya merasa tidak tega jika ibu itu harus duduk di belakang bersama barang" jawab Habib Munzir.
"Dia sudah biasa seperti itu kok bib" jawab Asri.

Mendengar jawaban "sudah biasa" tsb Habib Munzir kaget dan terkejut, beliau menceritakan, saya kaget dan merasa tercekik mendengarnya, "sudah biasa ??", "dia sudah biasa seperti itu bib", seorang biarawati penyeru kepada agama keyakinannya ia ternyata sudah terbiasa untuk berjalan dan duduk di bak bagian belakang dari kampung ke kampung demi berjuang untuk menyebarkan keyakinannya.

Kata Habib Munzir lagi "maka tidak salah kalau seandainya agama non muslim yang menjadi maju, karena para dai muslim hanya bersembunyi di kota-kota besar, tidak mau keluar seperti mereka . Maka jangan salahkan mereka jika muslimin semakin mundur , karena para dai nya juga semakin mundur. Dan ketika sopir mengatakan ia sudah terbiasa, maka semakin sakit hati saya, bukan semakin tenang tapi semakin sakit saya mendengarnya."

Dan Ibu biarawati tersebut pun naik di Bak belakang mobil 4X4 yang dipakai, satu tempat bersama barang.

Perjalanan pun diteruskan, 1 jam perjalanan terasa rintik rintik gerimis mulai turun. Melihat itu Habib Munzir menjadi gelisah, risau, tak tenang, ia terpikir kepada ibu biarawati yang sedang duduk di bak belakang.

Kata Habib Munzir "Hati saya terasa tercekik, sungguh! walaupun ia adalah seorang non muslim, tapi bagaimanapun ia adalah seorang wanita yg usianya cukup tua, duduk di Bak terbuka di belakang dengan terpaan hujan, ia seorang pemuka dan guru agama non muslim, ia sangat tabah dalam berdakwah membela agamanya dengan semangat juang yg luar biasa, ia berjalan dari kampung ke kampung, terus mengajar dengan sukarela sepanjang hidupnya, mengabdi pada agamanya, sampai rela duduk di Bak belakang mobil, dalam keadaan hujan dan panas, ia wanita, sudah cukup lanjut usia, demikian tabahnya Da’i non muslim ini, hati saya seperti tercabik cabik, saya malu, malu sekali.."

Hujan pun turun semakin deras, Habib Munzir semakin gelisah. Beliau sudah tak tahan lagi, semakin risau dengan keadaan ibu biarawati tsb.

"Berhenti Asri, berhenti..!" kata Habib Munzir seketika sambil memegang tangan Asri. Asri pun menghentikan mobil.

"Ada apa bib?" Tanya Asri

"Saya mau pindah ke belakang bak menggantikan posisi ibu itu, biar ibu itu duduk didalam sini menggantikan tempat saya duduk" jawab Habib Munzir.

Mendengar itu Asri menjadi kaget dan tentu saja menolak. "Itu tidak mungkin Habib, Tidak mungkin habib turun dan pindah ke bak belakang..!, habib sudah carter mobil saya..!!, lagi pula ini sedang hujan habib..!!",

Habib Munzir menjawab "Dia seorang wanita yang lebih tua dari saya meskipun ia beda agama, Rasulullah saw menghormati yang lebih tua ".

Habib Munzir tetap bersikeras memaksa, akhirnya mau tidak mau Asri yang menyupir mobil pun pasrah menuruti.

Habib Munzir melarang mereka
"Yang lainnya tetap dalam posisinya, cukup satu orang yang menemani saya di Bak Belakang, sudah ada satu orang penjaga Barang kok di belakang"

Dan mereka pun sangat bersempit sempit 4 orang di kursi belakang.

Tapi Ibu itu ternyata tak mau pindah ia tetap mau duduk di bak saja, ia seakan merasa tahu diri bahwa dirinya menumpang, ia merasa malu dan haru.

"Kalau Ibu tidak mau turun dan masuk kedalam maka saya tidak akan mau naik ke mobil" jawab Habib Munzir.

Mau tidak mau akhirnya ibu itupun masuk kedalam mobil. Habib Munzir duduk di bak belakang di temani KH Ahmad Baihaqi. Di saat itu hujan turun semakin deras membasai tubuh Habib Munzir yang duduk di bak terbuka. Habib Munzir membuka sorban dan kacamatanya, cuma pakai peci. Habib Munzir menangis, bukan menangis karena keadaannya, tapi menangis karena faktor biarawati tadi.

Kata Habib Munzir "Saya menangis, memikirkan, betapa kuat dan tabahnya biarawati itu, betapa malunya saya karena saya dimanjakan di Jakarta, sekedar turun dari mobil dan naik ke mimbar, sedangkan mereka, para dai non muslim di wilayah pedalaman, terus berdakwah, maka siapa yang akan terjun kesana jika kita para da'i muslim hanya duduk di kota-kota besar?"

Dalam derasnya hujan itu mobil kembali berhenti. Bang Ipul (Saeful Zahri) turun dan meminta agar Habib Munzir masuk kedalam menggantikan tempatnya, tapi Habib Munzir menolak.
"saya sudah duduk dan malas berdiri lagi, kalau mau ganti saja KH Ahmad baihaqi kedepan, tapi saya tidak mau pindah".

maka demikian bergantian beberapa waktu terus 4 personil bergantian pindah ke belakang, namun Habib Munzir tetap tak ingin beranjak dari bak, hanya yang lain saja bergantian.

kata Habib Munzir menceritakan "Saya duduk di bak Belakang untuk membalas pilu saya akan semangat seorang wanita tua itu yang penyeru kepada agama non muslim, aku seorang penyeru ke Jalan Allah, aku malu pada Allah.. patutnya aku berjalan kaki 200 km bukan duduk di Bak terbuka yg masih bisa santai".

silakan bagi yang mau share, copas, salin, dsb

http://muslimina.blogspot.com/2015/07/mengharukan-begini-sikap-habib-munzir.html

Rabu, 17 Juni 2015

True story

True story..

"Ibumu.. Ibumu.. Ibumu.."

Ada secarik kertas pertanyaan yang ditujukan kepada Ust."Syafiq bin Riza Basalamah"pada kajian "Bangkai Hidup",
yang jawabannya mencabik relung hati terdalam ratusan jama'ah pagi itu..
Semua tertunduk, berurai air mata, tersedu-sedu..

Pertanyaan tersebut berbunyi..

"Ustadz, bagaimana cara agar ana yang di Jakarta, tetap bisa bermuamalah baik kepada orangtua ana yang berada di Bogor?"

Ustadz pun menjawabnya ringan diselipi canda khasnya..

"Ya akhi.. Bogor ke Jakarta itu ada keretanya nggak ya?
Ada kan masya Allah..
Naik kereta kan bisa akhi.. Nggak kayak dulu harus naik Unta..
Lama sampainya.."

Jama'ah pun tertawa.

Berselang beberapa detik dari gemuruh tawa yang menggema di Masjid, mendadak air muka Ustadz berubah.
Kepala beliau menjadi tertunduk..
Matanya terlihat berkaca-kaca.
Ustadz teringat sebuah kisah.. Kisah nyata..

"Ana mau cerita sedikit tentang sebuah kisah dari Arab..
Semoga antum bisa mengambil faidah.."

Beliau pun bercerita..

Ada sepasang suami istri, yang sudah hampir 21 tahun menikah,
namun sang suami jarang sekali mengunjungi ibunya.. Mereka bertemu hanya pada hari-hari raya saja..

Hingga pada suatu malam, sang istri bertanya,
"Wahai suamiku, tak inginkah kau keluar malam ini bersama seorang wanita?"

Sang suami pun terkejut..
"Maksudmu wahai istriku? Seorang wanita?
Aku tak mengerti.."
Sang istri berkata,
"Ibumu, wahai suamiku..".
Sang suami pun terdiam.

Ia baru sadar bahwa sudah lama sekali ia tak memiliki waktu khusus dengan sang ibunda..

Ia pun segera menelpon ibundanya, hendak mengajak makan malam.
Ketika sang anak mengutarakan keinginannya kepada sang ibu,
ibundanya terheran-heran..
"Ada apa gerangan anakku? Ada apa?
Kenapa tiba-tiba mengajakku pergi?"

Sang anak menjawab, "Tidak, ibu.Tidak ada apa-apa..
Aku hanya ingin mengajak ibu makan malam. Berdua saja.."

Disebrang telepon,
sang ibu sangat terharu.. Karena setelah sekian lama, akhirnya ia memiliki waktu khusus bersama anak yang sangat ia cintai..

Sesampai di rumah sang ibu, terlihat beliau sudah berdiri di depan pintu rumah dengan pakaian yang begitu rapi,dan senyum yang teramat tulus untuk menyambut anak tercintanya.

Sangat terlihat bahwa sang ibunda tak ingin terbuang waktunya barang sedetikpun.

Masuk ke dalam mobil, senyumnya masih terpajang dipipi beliau yang sudah dihiasi banyak kerutan itu.

Sang ibunda berujar, "Nak, ibu sangat bahagia malam ini..".

Sang anak membalasnya, "Begitu juga aku, bu..",

sambil mencium tangan sang ibu.Lalu mereka pun bergegas menuju sebuah restoran dan berbincang-bincang hingga larut malam.

Terpampang sekali ada luapan kasih sayang dan rindu yang tak dimiliki bahkan oleh istrinya sekalipun,
hanya sang ibu..

Singkat cerita, tak lama dari pertemuan malam itu, sang ibunda pun meninggal dunia..

Ya.. Pertemuan malam itu adalah rezeki terakhir mereka bisa berdua. Sungguh suatu kenyataan yang tak bisa dibayangkan,

namun semua ikhlas saat itu,
semua ridho, dan hanya berharap Allah jalla jalaluhu akan menempatkan sang ibunda tercinta disisiNya.

Beberapa hari setelah kepergian sang ibu,telpon genggam sang anak berdering..

"Mas, Anda sekeluarga diundang oleh seseorang untuk makan malam nanti di restoran kami,"

ujar seorang pegawai restoran.Ternyata, restoran itu adalah restoran tempat ia dan ibundanya makan malam saat itu.

"Oh begitu..
Kalau boleh tahu, siapa yang mengundang ya, mas?"
ujarnya dengan keheranan.
"Seseorang mas,"
jawab pegawai tersebut.

Ia pun datang untuk memenuhi undangan tersebut bersama istri dan anak-anaknya.

Lalu ia bertanya kepada salah seorang pegawai, "Maaf mas, sebenarnya siapa yang mengundang kami kesini?
Mana ya orangnya?".
Pegawai itu menjawab, "Sebentar mas,
saya tanyakan ke resepsionis".Tak lama, pegawai itu kembali untuk memberitahu nama orang yang mengundang ia sekeluarga.

Ia bilang, orang yang mengundang ini sudah memesan sejak jauh-jauh hari..

Dan nama yang diucapkan oleh pegawai restoran itu adalah nama yang sangat tak asing ditelinga sang kepala keluarga itu..

Bahkan mengalir dalam darahnya..

Nama itu adalah nama sang ibunda tercinta..

Ya ikhwah,

kasih ibu sepanjang masa.. Tak tergantikan oleh siapapun juga.

Bukan harta yang ia mau, tapi waktu kita yang ia tunggu..

Maka itu, jika rambut ibumu sudah memutih,

kerutan kerutan sudah menghiasi tubuhnya,

berkasih sayanglah kita kepadanya..

Jagalah ia selalu.
Jangan lupa untuk hubungi meski jarak terlampau jauh.

Dan do'akan agar beliau selalu dirahmati oleh Allah jalla jalaluhu selalu..

(Kisah ini diambil dari sesi tanya-jawab [dengan sedikit perluasan cerita] kajian
"Bangkai Hidup",

Sabtu, 23 Mei 2015 M @ Masjid Ar Rahmat, Slipi, Jakarta Barat.

Pemateri: Ust. Syafiq bin Riza bin Basalamah)

Ibnu Herry
Ahad, 24 Mei 2015 M | 07:24 WIB